WoW dotA Allstars

This is Description

Kamis, 03 Juli 2014

kecepatan PWM motor

 Pengontrolan motor DC secara sederhana dibagi menjadi dua. Pertama yaitu dengan mengatur arah putaran dan besarnya kecepatan dari putaran motor. Arah putaran motor secara prinsip di atur dengan membalikan polaritas tegangan yang masuk ke motor. Sedangkan besarnya kecepatan putaran motor diatur dengan mengatur tegangannya. Mekanisme pengaturan ini ditangani oleh driver motor.

Driver motor yang digunakan banyak jenisnya. Yang paling sederhana dan mudah dijumpai adalah driver dengan tipe IC L293D dan L298. Driver ini masing-masing memiliki kemampuan memberikan arus maksimal motor sebesar 1A dan 4A. Untuk motor-motor kecil yang memiliki rating arus rendah sangat cocok menggunakan driver motor ini.



Pengontrolan motor DC secara sederhana dibagi menjadi dua. Pertama yaitu dengan mengatur arah putaran dan besarnya kecepatan dari putaran motor. Arah putaran motor secara prinsip di atur dengan membalikan polaritas tegangan yang masuk ke motor. Sedangkan besarnya kecepatan putaran motor diatur dengan mengatur tegangannya. Mekanisme pengaturan ini ditangani oleh driver motor.

Driver motor yang digunakan banyak jenisnya. Yang paling sederhana dan mudah dijumpai adalah driver dengan tipe IC L293D dan L298. Driver ini masing-masing memiliki kemampuan memberikan arus maksimal motor sebesar 1A dan 4A. Untuk motor-motor kecil yang memiliki rating arus rendah sangat cocok menggunakan driver motor ini.



namun motor DC itu pun harus menggunakan listing program yaitu :



uses wincrt;
var
n, i : integer;
rata : real;
jum, bil : integer;
begin
Write(‘Masukkan jumlah motor = ‘);readln(n);
writeln (‘jumlah motor adalah= ‘,n);writeln;
for i := 1 to n do
begin
write(‘Masukkan kecepatan : ‘);read(bil);
jum := jum+bil;
end;
rata := jum/n;writeln;
writeln(‘nilai keseluruhan kecepatan adalah : ‘,jum);
writeln(‘Nilai rata-rata kecepatan adalah :’, rata:0:2);
end.





output program :

Salah satu parameter yang perlu diatur pada sinyal PWM ini adalah periode sinyal dan lebar pulsanya. Lebar pulsa dinyatakan dengan duty cycle yang merupakan persentase dari perbandingan pulsa on (Ton) dengan Ttotal, sehingga %duty_cycle = Ton/Ttotal*100 (%). Untuk mencoba membuat programnya dengan mikrokontroler AVR maka dapat dengan mudah dilakukan menggunakan CodeVisionAVR. Contoh yang digunakan dibawah ini adalah dengan menggunakan ATmega16 yang dipasang frekuensi clock 11.05920 MHz.


Yang perlu diubah adalah parameter Clock Value 10.800 kHz, Mode Fast PWM top = 00FFh, Out. A dan Out. B Non. Inverting. Dengan mengatur Clock Value 10.800 kHz maka periode timer adalah 1/10.800 kHz = 92.6 uS. Maksudnya adalah kenaikan register Timer1 yaitu TCNT1 akan increment (naik satu kali) setiap 92.6 uS. Karena dipilih nilai top dari timer adalah 00FFh atau 255 maka periode PWM total adalah sebesar 255*92.6 uS = 23.61 mS. Untuk mengatur duty cycle yaitu dengan memasukan nilai ke register OCR (OCR1A atau OCR1B) yang nilainya 0 – 255. Dimana Ton yang akan dihasilkan memiliki waktu sebesar OCR*92.6 uS. Maka jika nilai OCR = 128, Ton adalah 128*92.6 uS = 11.85 ms. Untuk membuktikannya dapat dilihat dengan menggunakan Osiloskop pada simulasi dengan Proteus. Dimana prinsip kerjanya dapat dilihat pada gambar berikut



0 komentar:

Poskan Komentar